EKSISTENSIALISME
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Tidak banyak aliran filsafat yang mengguncang dunia, filsafat eksistensialisme adalah salah satu di antaranya. Nanti anda akan melihat bahwa filsafat ini tidak luar biasa, akar-akarnya ternyata tidak dapat bertahan dari berbagai kritik. Akan tetapi, isme ini termasuk isme yang membuat guncangan yang hebat. Setelah selesai Perang Dunia Kedua, penulis-penulis Amerika (terutama wartawan) berbondong-bondong pergi menemui filosof eksistensialisme, misalnya mengunjungi filosof Jerman Martin heidegger (lahir 1839) di gubuknya yang terpencil di Pegunungan Alpen sekalipun ia telah bekerja sama dengan Nazi. Takkala seorang filosof eksisitensialisme, Jean Paul Sartre (lahir 1905), mengadakan perjalanan keliling Amerika, dia disebut oleh orang Amerika sebagai the King of Existentialism. Bila cerita sandiwaranya dipentaskan, orang telah menyiapkan ambulans untuk mengangkut penonton yang jatuh pingsan. Demikianlah sekadar penggambaran kehebatan filsafat eksistensialisme. Sayangnya filsafat ini sulit dipahami oleh pemula[1].
II. Rumusan Masalah
Ada pun rumusan masalah yang ada dalam makalah ini adalah :
1. Apakah pengertian dari Eksistensialisme?
2. Bagaimana sejarah lahirnya eksistensialisme?
3. Siapa saja tokoh dalam filsafat eksistensialisme?
PEMBAHASAN
I. Pengertian Paradigma Eksistensialisme
Kata eksistensialisme berasal dari kata eks yang berarti keluar dan sistensi atau sisto yang berarti berdiri, menempatkan.
Secara umum berarti, manusia dalam keberadaannya itu sadar bahwa dirinya ada dan segala sesuatu keberadaannya ditentukan oleh akunya. Karena manusia selalu terlihat di sekelilingnya, sekaligus sebagai miliknya. Upaya untuk menjadi miliknya itu manusia harus berbuat menjadikan-merencanakan, yang berdasarkan pada pengalaman yang kongkret.
Eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang memandang berbagai gejala dengan berdasarkan pada eksistensinya. Artinya, bagaimana manusia berada (bereksistensi) dalam dunia[2].
Pendapat lain menyebutkan bahwa eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara berda di dunia. Cara berada manusia berada di dunia berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lain.
Benda mati dan hewan tidak menyadari keberadaannya, tetapi manusia sadar bahwa ia berada di dunia. Manusia sadar bahwa ia bereksistensi. Itulah sebabnya segalanya mempunyai arti sejauh berkaitan dengan manusia. Dengan kata lain, manusia member arti kepada segalanya. Manusia menentukan perbuatannya sendiri. Ia memahami diri sebagai pribadi yang bereksistensi.
Jadi, eksistensialisme barpandangan bahwa manusia eksistensi mendahului esensi (hakekat), sebaliknya benda-benda lain esensi mendahului eksistensi. Manusia berada lalu menentukan diri sendiri menurut proyeksinya sendiri. Hidupnya tidak ditentukan lebih dahulu. Sebaliknya, benda-benda lain bertindak menurut esensi atau kodrat yang memang tidak dapat terelakkan.
Kata dasar eksistensi adalah exist yang berasal dari kata Latin ex yang berarti keluar dan sistere yang berarti berdiri. Jadi, eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran macam ini dalam bahasa Jerman disebut dasein. Da berarti di sana, sein berarti berada. Berada bagi manusia selalu berarti di sana, di tempat. Tidak mungkin ada manusia tidak bertempat. Bertempat berarti terlibat dalam alam jasmani, bersatu dengan alam jasmani. Akan tetapi, bertempat bagi manusia tidaklah sama dengan betrempat bagi batu atau pohon. Manusia selalu sadar akan tempatnya. Dia sadar bahwa ia menempati. Ini berarti suatu kesibukan, kegiatan, melibatkan diri. Dengan demikian, manusia sadar akan dirinya sendiri. Jadi, dengan keluar dari diri-nya sendiri manusia sadar tentang dirinya sendiri; ia berdiri sebagai aku atau pribadi.
Filsafat eksistensi tidak sama persis dengan filsafat eksistensialisme (Hassan, 1974:7). Yang dimaksud dengan filsafat eksistensi adalah benar-benar sebagaimana arti katanya, yaitu filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentra (Hassan, 1974:7). Ini adalah satu ragam filsafat. Tokoh-tokoh yang dapat digolongkan ke dalam filsafat eksistensi telah banyak terdapat sebelum lahirnya filsafat eksistensialisme. Adapun yang dimaksud dengan filsafat eksistensialisme, rumusannya lebih sulit daripada eksistensi.
Sejak muncul filsafat eksistensi, cara wujud manusia telah dijadikan tema sentral pembahasan filsafat, tetapi belum pernah ada eksistensi yang secara bagitu radikal menghadapkan manusia kepada dirinya seperti pada eksistensialisme. Untuk eksistensialisme, kita harus membicarakan lebih dulu situasi total pada waktu itu di Eropa Barat yang memaksa tampilnya suatu jawaban. Jawaban itu adalah eksistensialisme[3].
II. Lahirnya Eksistensialisme
Filsafat selalu lahir dari suatu krisis. Krisis berarti penentuan. Bila terjadi krisis, orang biasanya meninjau kembali pokok pangkal dan mencoba apakah ia dapat tahan uji. Dengan demikian, filsafat adalah perjalanan dari satu krisis ke krisis yang lain. Ini berarti bahwa manusia yang berfilsafat senantiasa meninjau dirinya, misalnya ia mempersoalkan Tuhan atau dunia sekelilingnya, tetapi dalam hal seperti itu manusia sesungguhnya masih mempersoalkan dirinya juga. Bahwa dalam filsafat eksistensi manusia tegas-tegas dijadikan tema senteral, menunjukkan bahwa di tempat itu (barat) sedang berjangkit suatu krisis yamg luar biasa hebatnya (Beerling, 1966:211-12).
Secara umum eksistensialisme merupakan suatu aliran filsafat yang lahir karena ketidakpuasan beberapa filusuf yang memandang bahwa filsafat pada masa yunani hingga modern, seperti protes terhadap rasionalisme Yunani, khususnya pandangan tentang spekulatif tentang manusia. Intinya adalah Penolakan untuk mengikuti suatu aliran, penolakan terhadap kemampuan suatu kumpulan keyakinan, khususnya kemampuan sistem, rasa tidak puas terhadap filsafat tradisional yang bersifat dangkal, akademik dan jauh dari kehidupan, juga pemberontakan terhadap alam yang impersonal yang memandang manusia terbelenggu dengan aktifitas teknologi yang membuat manusia kehilangan hakekat hidupnya sebagai manusia yang bereksistensi[4].
Sifat materialisme ternyata merupakan salah satu pendorong lahirnya eksistensialisme. Yang dimaksud dengan eksistensi ialah orang cara orang berada di dunia. Kata berada pada manusia tidak sama dengan beradanya pohon dan batu. Untuk menjelaskan arti kata berada bagi manusia, aliran eksistensialisme mula-mula mengahantam materialisme. Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia; sapi dan pohon juga. Akan tetapi, cara beradanya tidak sama. Manusia berada di dalam dunia; ia mengalami beradanya di dunia itu; manusia menyadari dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dengan mengerti yang dihadapinya itu. Manusia mengerti guna pohon, batu, dan salah satu diantaranya ialah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti.
Rene Le Scene, seorang existentialis, merumuskan kesalahan materalisme itu secara singkat: kesalahan itu ialah detotalisasi. De artinya memungkiri, total artinya seluruh. Maksudnya, memungkiri manusia sebagai keseluruhan. Pandangan materialisme itu belum mencangkup manusia secara keseluruhan. Pandangan Materialisme itu belum mencangkup manusia secara keseluruhan. Pandangan tentang manusia seperti pada materialisme itu akan membawa konsekuensi yang amat penting (Drijarkara, 1966:57-60). Lahirnya eksistensialisme merupakan salah satu dari konsekuensi itu[5].
Eksistensialisme juga lahir sebagai reaksi terhadap idealisme. Materalisme dan idealisme adalah dua pandangan filsafat tentang hakikat yang ekstrem. Kedua-duanya berisi benih-benih kebenaran, tetapi keduaduanya juga salah. Eksistensialisme ingin mencari jalan keluar dari kedua ekstremitas itu. Materalisme memandang kejasmanian (materi) sebagai keseluruhan manusia, padahal itu adalah aspek manusia. Materialisme menganggap manusia hanyalah sesuatu yang ada, tanpa sebagai subjek. Manusia berpikir, berkesadaran; inilah yang tidak di sadari oleh materialisme. Akan tetapi, sebaliknya, aspek ini (berpikir, berkesadaran) dilebih-lebihkan oleh idealisme sehingga menjadi seluruh manusia, bahkan dilebih-lebihkan lagi sampai menjadi tidak ada barang lain selain pikiran.
Eksistensialisme dapat diidentifikasi melalui cirinya sebagai berikut;
eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme Hegel.
Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkret.
Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang imperasional (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakkan masa. Masyarakat industri cenderung untuk menundukkan orang seorang kepada mesin.
Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau masa.
Eksistensialisme menekan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia.
Eksistensialisme menekan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung[6].
Eksistensialisme menekan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung[6].
III. Tokoh-Tokoh dalam Paradigma Eksistensialisme
1. Soren Klerkegaard (1913-1855)
Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark pada 5 Mei 1813, sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, merupakan pedagang grosir yang menjual kain, pakaian, dan makanan. Ia menikahi Ane Sorendatter Lund, seorang pembantu yang tidak pernah memperoleh pendidikan; istri pertamanya meninggal dua tahun setelah pernikahan mereka.
Setelah mengenyam pendidikan di sekolah putra yang prestisius di Borgerdydskolen, ia melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Kopenhagen. Di sini pria yang bernama lengkap Soren Aabye Kierkegaard ini mempelajari filsafat dan teologi. Sejumlah tokoh seperti F.C. Sibbern, Poul Martin Moller, dan H.L. Martensen menjadi gurunya di sana[7].
Suatu reaksi terhadap idealisme yang sama sekali berbeda dari reaksi materalisme ialah yang berasal dari pemikir Denmark yang bernama Soren Kierkegaard. Menurut Kierkegaard, filsafat tidak merupakan suatu sistem, tetapi suatu pengekspresian eksistensi individual. Karena ia menentang filsafat yang bercorak sistematis, dapat dimengerti mengapa ia menulis karyanya dengan menggunakan nama samaran. Dengan cara demikian, ia mencoba menghindari anggapan bahwa bukunya merupakan gambaran tentang fase-fase perkembangan pemikirannya. Dengan menggunakan nama samaran, mungkinlah ia menyerang pendapat-pendapatnya di dalam bukunya yang lain.
Pertama-tama Kierkegaard memberikan kritik terhadap Hegel. Ia berkenalan dengan filsafat Hegel ketika belajar teologi di Universitas Kopenhagen. Mula-mula memang ia tertarik dengan filsafat Hegel yang telah populer di kalangan intelektual di Eropa ketika itu, tetapi tidak lama kemudian ia melancarkan kritiknya.
Keberatan utama yang diajukan oleh Kierkegaard kepada Hegel ialah karena Hegel meremehkan eksistensi yang kongkret karena ia (Hegel) mengutamakan idea yang sifatnya umum. Menurut Kierkegaard, manusia tidak pernah hidup sebagai suatu “aku umum”, tetapi sebagai ”aku individual” yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalm sesuatu yang lain. Dengan demikian, Kiergaard memperkenalkan istilah “eksistensi” dalam suatu arti yang mempunyai peran besar pada abad ke-20. Hanya manusia yang mampu bereksistensi, dan eksistensi saya tidak saya jalankan satu kali untuk selamanya, tetapi pada setiap saat eksistensi saya menjadi objek pemilihan baru. Bereksistensi ialah bertindak. Tidak ada orang lain yang dapat menggantikan tempat saya untuk bereksistensi atas nama saya.
Keberatan utama yang diajukan oleh Kierkegaard kepada Hegel ialah karena Hegel meremehkan eksistensi yang kongkret karena ia (Hegel) mengutamakan idea yang sifatnya umum. Menurut Kierkegaard, manusia tidak pernah hidup sebagai suatu “aku umum”, tetapi sebagai ”aku individual” yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalm sesuatu yang lain. Dengan demikian, Kiergaard memperkenalkan istilah “eksistensi” dalam suatu arti yang mempunyai peran besar pada abad ke-20. Hanya manusia yang mampu bereksistensi, dan eksistensi saya tidak saya jalankan satu kali untuk selamanya, tetapi pada setiap saat eksistensi saya menjadi objek pemilihan baru. Bereksistensi ialah bertindak. Tidak ada orang lain yang dapat menggantikan tempat saya untuk bereksistensi atas nama saya.
Meskipun melancarkan kritik yang sangat keras terhadap gereja, ia tetap berkunjung ke gereja. Tidak untuk menghadiri ibadah. Ia hanya duduk di luar gereja dengan tenang pada hari Minggu. Namun, ia tetap memberikan perpuluhan kepada gereja. Ketika ia hendak pulang ke rumah dengan uang terakhir yang dimilikinya, Kierkegaard terjatuh tak sadarkan diri. Ia dibawa ke rumah sakit dan meninggal lima minggu kemudian. Ia meninggal pada tanggal 11 November 1855. Pemakaman Kierkegaard tidak dihadiri oleh pendeta manapun. Hanya dua orang sepenting Peter, saudara laki-lakinya yang telah menjadi uskup, dan dekan dari sebuah katedral[8].
Menurut Parkay (1998) aliran eksistensialisme terbagi dua bersifat theistik (bertuhan) dan atheistik. Salah satu tokoh aliran eksistensialisme bersifat atheistik adalah Friedrich Nietzche.
2. Friedrich Nietzsche
Menurutnya manusia yang berkesistensi adalah manusia yang mempunyai keinginan untuk berkuasa (will to power), dan untuk berkuasa manusia harus menjadi manusia super (uebermensh) yang mempunyai mental majikan bukan mental budak. Dan kemampuan ini hanya dapat dicapai dengan penderitaan karena dengan menderita orang akan berfikir lebih aktif dan akan menemukan dirinya sendiri.
Nietzsche, tidak saja menolak wujud Tuhan, tetapi juga menyerang Tuhan. Dengan mematikan Tuhan, demikian Nietzsche, manusia baru bisa bebas berbuat dan bertindak. Sebab, selama ini manusia selalu dikungkung oleh nilai-nilai agama, seperti pahala dan dosa. Dia bebas untuk menentukan nasibnya dan menjadi manusia super. Manusia super, demikian Nietzsche adalah tujuan manusia yang sempurna, lawannya adalah manusia budak yang tidak memiliki ambisi. Kebajikan utama adalah kekuatan, yang kuatlah yang menang dan segala yang baik harus kuat. Sebaliknya, yang lemah pasti buruk. Perang, menurutnya, adalah gejala yang wajar untuk menentukan siapa yang terkuat dari berbagai bangsa.
Menurut Nietzsche, pikiran-pikiran tentang persamaan derajat manusia atau antar bangsa adalah mustahil dan bertentangan denga kodrat alam. Manusia, demikian Nietzsche , harus dilihat dalam konteks yang selalu berbeda dengan yang lain. Adanya usaha untuk menyamakan manusia, seperti demokrasi, sebenarnya menentang kodrat alam secara diferensiasi. Manusia secara kodrati memiliki kemampuan yang berbeda.
Untuk membebaskan pikiran manusia dari ide tentang Tuhan, menurut Niestzche, seseorang tidak harus menyalahkan bukti-bukti yang menduga adanya Tuhan. Dia harus menyerang nilai-nilai kristen yang merendahkan derajat manusia dan menggantikannya dengan nilai yang mulia dan agung. Dengan kemauan yang keras, manusia harus membebaskan dirinya sendiri dari nilai-nilai Tuhan yang membebani. Ateisme dimata Nietszche, bukanlah masalah spekulatif, tetapi lebih merupakan sesuatu pengukuhan eksistensial.
Untuk menjadi benar-benar agung, demikian Nietszche, manusia harus gencar mengumandangkan kematian Tuhan. ”kita telah membunuh Tuhan”, tulis Nietszche, dalam suatu kesadaran mistis. ”Perbuatan ini terlalu agung bagi kita. Karena itu, tidak perlukah jika sebagai akibat dari tindakan ini, kita sendiri menjadi dewa-dewi?”, jerit Nietszche.
Tuhan yang dibunuh oleh Nietzsche adalah tuhan ’akibat’ bukan tuhan ’sebab’. Tuhan sebagai pencipta alam tidak disinggung olehnya karena memang tidak mendatangkan hasil bagi kehidupan. Yang ditentengnya adalah tuhan orang Eropa yang menyengsarakan rakyat, dan menjadikan rakyat penurut dan penakut. Seandainya ada ’tuhan’ yang sesuai dengan ide Nietzsche, tentu dia mengakuinya. Dan untuk itu dia memang menciptakan tuhan sendiri yang bernama Zarathustra, yaitu dirinya sendiri[9].
3. Jean Paul Sartre (1905-1980)
Tokoh eksistensialisme sesudah Nietzsche adalah J.P Sartre, abad 20. menurut pengakuannya, dia kehilangan kepercayaan ketika berumur 11 tahun. Tuhan, demikian Sartre, tidak merupakan hal yang sangat jelas bagi dia, sehingga dia menganggap sama sekali tidak ada gunanya untuk menyelidiki dan membukukan kesalahan argumen tradisional dan modern tentang eksistensi Tuhan. Dia menganggap bahwa tuhan hanya merupakan proyeksi dari jiwa manusia. Hipotesa tentang tuhan tidak diperlukan untuk mewujudkan dan memahami eksistensi manusia. Baik tuhan ada atau tidak ada tidak mengubah kondisi nyata manusia, tulis Sartre. Sebab, seandainya tuhan ada, manusia sama sekali tidak berarti; seandainya manusia ada sebagai pelindung par excellence, paling sempurna dari tatanan nilai-nilai moral dan rasional yang mapan. Tuhan harus ditolak atas nama kemerdekaan. Alasannya adalah bahwa manusia tidak akan menjadi bebas bila ada satu tatanan nilai yang absolut dan universal.
Kemerdekaan manusia, menurut Sartre, adalah mutlak dan sekaligus merupakan suatu hukuman, sebagaimana pohon dihukum menjadi pohon, manusia dihukum menjadi bebas. Dibalik kebebasan itu, manusia dituntut bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri. Tanggung jawab itu meliputi kemanusiaan secara umum sebab dia dituntut memilih berbagai kemungkinan yang tersedia. Disinilah letaknya, seseorang yang memilih diliputi dengan kecemasan atas tanggungjawab.
Pada tanggal 15 april 1980 dunia filsafat dikagetkan oleh berita meninggalnya seorang filosof besar prancis, tokoh paling penting filsaat eksistensialisme, yaitu Jean Paul Sartre. Dialah yang menyebabkan eksistensialisme menjadi tersebar, bahkan menjadi semacam mode, sekalipun pendiri eksistensialisme bukanlah dia, melainkan Soren Aabye Kierkegaard (1813-1855) (Kaufmann, 1976:192).
Jean Paul Sartre lahir di Paris pada tahun 1905 dan meninggal pada tahun 1980. Ia belajar pada Ecole Normale Superieur pada tahun 1924-1928. setelah tamat dari sekolah itu pada tahun 1929 ia mengajarkan filsafat di beberapa Lycess, baik di Paris maupun di tempat lain. Dari tahun 1933 sampai tahun 1935 ia menjadi mahasiswa peneliti pada Institut Francais di Berlin dan di Universitas Freiburg. Tahun 1938 terbit novelnya yang berjudul La Nausee, dan Le Mur terbit pada tahun 1939. sejak itu muncullah karya-karyanya yang lain dalam bidang filsafat. Pada tahun 1943 ia menyelesaikan bukunya yang terkenal L’Etre et Le Neant, dan pada tahun 1960 terbit bukunya, Critique de la Raison Dialectique (diambil dari Encyclopedia of Philosophy, 7-8, 1967:287-288)[10].
Bagi Sartre, eksistensi manusia mendahului esensinya. Pandangan ini amat janggal sebab biasanya sesuatu harus ada esensinya lebih dulu sebelum keberadaannya. Filsafat eksistensialisme membicarakan cara berada di dunia ni, terutama cara berada manusia. Dengan perkataan lain, filsafat ini menempatkan cara wujud-wujud manusia sebagai tema sentral pembahasannya. Cara itu hanya khusus ada pada manusia karena hanya manusia bereksistensi. Binatang, tetumbuhan, bebatuan memang ada, tetapi mereka tidak dapat disebut bereksistensi (Drijakara, 1966:57). Filsafat eksistensialisme mendamparkan manusia ke dunianya dan menghadapkan manusia kepada dirinya (Hassan:9).
Sartre adalah filosof ateis. Itu dinyatakannya secara terang-terangan. Konsekuensi pandangan ateis itu ialah tuhan tidak ada, atau sekurang-kurangnya manusia bukanlah ciptaan tuhan. Oleh karena itu, konsepnya tentang manusia ialah manusia bukan ciptaan Tuhan. Bagi Sartre, karena manusia itu penggada yang sadar (letre-pour-soi), persoalannya menjadi rumit. Pertama ia sadar. Dari sini muncul tanggung jawab. Karena tanggung jawab, manusia harus menentukan. Dari sini timbul kesendirian (kesepian), lalu rasa takut muncul. Kemudian Sartre menambahkan lagi: dari kesadaran itu muncul penyangkalan (neantiser). Manusia itu selalu menyangkal.
Jean Paul Sarte membedakan rasio analitis. Rasio analitis dijalankan dalam ilmu pengetahuan. Rasio dialektis harus digunakan, jika kita berfikir tentang manusia, sejarah, dan kehidupan sosial. Rasio terakhir ini bersifat dialektis, karena terdapat identitas dialektis antara Ada dan pengetahuan. Di sini ada tidak dilahap oleh pengetahuan (seperti halnya idealisme), tetapi pengetahuan termasuk Ada, artinya pengetahuan merupakan suatu proses yang berlangsung dalam Ada. Rasio ini dialektis larena objek yang diselidikinya bersifat dialektis dan juga karena ia sendiri ditentukan oleh tenpatnya dalam sejarah[11].
Sebagian besar buku sartre berisi uraian yang tajam dan sinis tentang hubungan antarmanusia: relasi antara kesadaran yang satu dengan kesadaran yang lain. Apa yang terjadi antara manusia dengan manusia, dalam instansi yang terakhir ialah revalitas dan konflik. Menurut Sartre ada dua kemungkinan hubungan antarmanusia itu: menjadi subjek atau menjadi objek, memakan atau dimakan (Drijarkara:89).
Sartre memulai filsafatnya dengan menjelaskan hakikat eksistensi manusia: eksistensi manusia mendahului esensinya. Mulainya manusia bereksistensi ialah sejak ia mengenal dirinya dan dunia yang dihadapinya. Itu berarti bahwa ia telah berkesadaran. Dari kesadaran itu munculah tanggung jawab. Karena bertanggung jawab, maka manusia harus memilih, menentukan, memutuskan. Itu dilakukannya sendirian. Timbullah rasa kesendirian, sepi, lalu takut. Takut itu tidak jelas objeknya, tidak jelas takut pada apa. Ini tentu menjadi penderitaan.
Sartre memulai filsafatnya dengan menjelaskan hakikat eksistensi manusia: eksistensi manusia mendahului esensinya. Mulainya manusia bereksistensi ialah sejak ia mengenal dirinya dan dunia yang dihadapinya. Itu berarti bahwa ia telah berkesadaran. Dari kesadaran itu munculah tanggung jawab. Karena bertanggung jawab, maka manusia harus memilih, menentukan, memutuskan. Itu dilakukannya sendirian. Timbullah rasa kesendirian, sepi, lalu takut. Takut itu tidak jelas objeknya, tidak jelas takut pada apa. Ini tentu menjadi penderitaan.
Kehidupan bersama diperlikan, tetapi ada bersama itu merupakan neraka bagi manusia. Dilema lagi. Memang filsafat Sartre penuh -kalau bukan seluruhnya- oleh dilema. Sebenarnya kekacauan filsafat Sartre disebabkan oleh pandangannya yang ateis. Apa yang tidak dapat diselesaikannya itu sesungguhnya diselesaikan dalam teisme. Filsafat Sartre bentrokan dengan realitas, buah pikiran Sartre memuat pandangan-pandangan yang bagus. Akan tetapi dasar-dasarnya tidak tahan uji.
4. Karl Jaspers
Memandang filsafat bertujuan mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri. Eksistensialismenya ditandai dengan pemikiran yang menggunakan semua pengetahuan obyektif serta mengatasi pengetahuan obyektif itu, sehingga manusia sadar akan dirinya sendiri. Ada dua fokus pemikiran Jasper, yaitu eksistensi dan transendensi.
5. Martin Heidegger
Inti pemikirannya adalah keberadaan manusia diantara keberadaan yang lain, segala sesuatu yang berada diluar manusia selalu dikaitkan dengan manusia itu sendiri, dan benda-benda yang ada diluar manusia baru mempunyai makna apabila dikaitkan dengan manusia karena itu benda-benda yang berada diluar itu selalu digunakan manusia pada setiap tindakan dan tujuan mereka[12].
PENUTUP
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yang memandang segala gejala dengan berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara berda di dunia. Cara berada manusia berada di dunia berbeda dengan cara berada makhluk-makhluk lain.
Lahirnya eksistensialisme tidak dapat dilepaskan dari situasi Eropa pada waktu itu, yaitu mulainya abad pencerahan dan munculnya proses massifikasi oleh berbagai institusi, baik agama maupun negara. Pemikiran yang radikal tentang manusia ini tidak lain adalah reaksi atas titik ekstrim yang terjadi waktu itu. Titik ekstrim tersebut, seperti keabsolutan nilai, opini umum, dan hilangnya ketunggalan manusia dalam kelompok yang direkayasa. Jadi, eksistensialisme tidak saja sebagai pemikiran filsafat murni, tetapi juga reaksi atas keadaan institusi sosial yang begitu mapan.
Karena itu, eksistensialisme tidak perlu dikhawatirkan oleh kaum agama dikawasan lain karena situasinya berbeda. Yang perlu diwaspadai adalah apabila suatu pemikiran atau nilai terlalu diabsolutkan, maka reaksi akan muncul dari berbagai pihak.
DAFTAR PUSTAKA
Tafsir, Ahmad, 1990, Filsafat Umum, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Asmoro, Achmadi, Filsafat Umum.
Mustansyir, Rizal, dan Misnal Munir, 2008, Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bakhtiar, Amsal, 1999, Filsafat Agama, Jakarta: Wacana Ilmu.
[1] Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Penerbit PT Remaja Rosdakarya, Bandung , 1990, Hal 190-191.
[2] Asmoro Achmadi, Filsafat Umum, Hal 127-128.
[3] Dr. Ahmad Tafsir, OP Cit, Hal. 192.
[4] Anonimus, “Berkenalan dengan Eksistensialisme”, (online) avaible: http://staff.blog.ui.ac.id/arif51/2008/07/01/eksistensialisme/.
[5] Dr. Ahmad Tafsir, Op Cit, Hal. 220.
[6] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008), hal. 93.
[8] Ibid.
[9] Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hal. 155.
[10] Ahmad Tafsir, Op Cit, hal. 224.
[11] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Op Cit, hal. 92.
[12] Berkenalan dengan Eksistensialisme, Op Cit.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silahkan tinggalkan komentar... ingat!! blog ini NO SARA!!